Setelah dua minggu pikiran ini tenang dengan berbagai masalah, ketakutan, kini semuanya kembali berubah. Di mulai hari ini. Seorang dosen yang baik, pintar, dan disiplin datang memberikan tekanan yang begitu kuat pada otakku yang sederhana. Marah, kesal, itulah perasaanku saat ini. Tapi semua hanya batas perasaan yang tersimpan, tertutup rapat di dalam hati.
Cerita singkat di atas merupakan awal perjalanan blog ini. Semoga blog ini bukan hanya menjadi pajangan di dunia maya yang tidak pernah di sentuh bahkan di intip.
Enho Stories
Senin, 28 April 2014
funfiction by agwiyumi
1. [OS] SHE'S MY WIFE
“Katakan
berapa lama kau kenal dengannya?”
“Enam
tahun.”
“Lalu
denganku?”
“Hampir
setahun.”
“Lihat
kan? Dilihat dari sudut manapun aku tetap saja kalah.” Donghae menenggelamkan kepalanya dalam bantal.
Meringkuk diatas ranjangnya persis seperti anak kecil yang tidak diberi uang
jajan eommanya.
“Itu
hanya masalah waktu. Tidak penting siapa yang lebih dulu kukenal. Yang penting
akhirnya aku menikah denganmu bukan dengannya.” pekik Yoona tak mau kalah. Ia sendiri tak habis pikir
dengan sikap kekanakan suaminya itu.
“Semua
juga tahu bagaimana awalnya kita bisa menikah.” gumam Donghae pelan.
“Kenapa
kau mengungkitnya lagi Donghae oppa? Aku bahkan sudah melupakannya.” Yoona mendesah, lama-lama ia mulai terbawa emosi. “Apa yang harus kulakukan agar kau percaya? Apa kita
harus punya bayi lagi? Baik, kalau itu maumu.” tantangnya.
Donghae terpaksa bangkit dari
rebahannya. “Aku
tidak pernah memaksamu untuk punya anak sebelum kau lulus kuliah seperti maumu.”
Ne, Yoona memang tengah
melanjutkan kuliahnya yang dulu sempat terbengkalai.
“Tapi
aku tahu kau sangat mengharapkannya. Aku tahu kau sangat ingin punya bayi.”
“Tidak.” elak Donghae yakin.
“Iya..
Buktinya kau bohong soal kamar sebelah yang kau bilang kau jadikan gudang.
Nyatanya kau telah mendesainnya menjadi kamar bayi.”
“Itu
kan dulu.”
Donghae gelagapan sendiri. “Aish, kenapa jadi membicarakan bayi. Kembali ke
masalah awal Yoong.”
“Masalah
apa? Masalah cemburumu yang berlebihan itu?”
Donghae terdiam. Bukan karena
ia merasa kalah atau kehabisan kata-kata. Hanya berpikir, benarkah ia cemburu
berlebihan.
Masalahnya berawal dari
ajakan makan malam dari Choi Siwon. Namja itu baru pulang dari Paris.
Sepertinya kali ini akan menetap lama di Seoul untuk mengurusi bisnisnya. Dan
entah kenapa Donghae merasa terancam dengan kehadiran Siwon. Seperti ada rasa
cemas yang ia sendiri tak paham.
“Jadi
bagaimana? Kau datang atau tidak Donghae oppa? Kalau kau tidak mau datang, aku
akan pergi dengan Yuri onnie dan Yesung oppa.” tegas Yoona.
“Aku
tetap tidak mau datang. Bagus kan? Dia pasti lebih senang kau datang tanpa aku.” kali ini Donghae kembali merebahkan tubuhnya dan
langsung menutupi kepalanya dengan selimut.
Yoona hanya bisa mendesah
jengah. Ia biarkan saja Donghae bersikap begitu. Ia malas memperpanjang
perdebatan yang menurutnya konyol ini.
___
Donghae terus membolak-balik
majalah di tangannya dengan resah. Saat ini pikirannya ada di tempat lain.
Yoona sedang makan malam bersama Yuri, Yesung, dan juga Siwon. Nama terakhir
itulah yang membuatnya gusar. Memang hubungan Yoona dan Siwon tetap berteman
baik. Bersama Yuri pun, Siwon tetap bersahabat dekat. Bahkan Yoona sempat
berniat menjodohkan mereka tapi tidak pernah berhasil. Hingga Yuri menemukan
Yesung sebagai kekasihnya. Dan Siwon sepertinya tetap sendiri. Menambah
kegalauan Donghae saja.
Bagaimanapun Yoona dan Siwon
pernah dekat, pernah bertunangan, dan hampir menikah. Kenyataan itu tidak bisa
terhapuskan begitu saja.
Aish, Donghae mengacak-acak
rambutnya kesal. Ia menyambar kunci mobilnya cepat. Sudah diputuskan, ia harus
melakukan sesuatu.
___
Di sudut sebuah restoran
mewah dua orang namja tampak menikmati makan malam mereka yang sedikit ganjil.
Makanan dipiring hanya mereka aduk-aduk tak jelas sambil mata mereka mengawasi
entah kemana. Memakai topi berbalut hoodie dan berkaca mata hitam. Persis
seperti dua orang mata-mata.
Tak berapa lama handphone
salah satu diantara mereka berbunyi nyaring.
“Seohyun.
Bagaimana ini hyung?”
panik Kyuhyun masih memandang handphonenya yang terus bergetar.
“Matikan.” perintah Donghae cepat. “Kalau Seohyun tahu bisa gawat.”
“Ne.” meski ragu Kyuhyun menurut.
Kini mereka kembali fokus
pada sekelompok orang yang berjarak tiga meja dari mereka. Dengan letak duduk
mereka yang dipojokan tentu lebih memudahkan untuk mengintip dengan leluasa.
“Apa-apaan
dia tersenyum seperti itu pada istriku.” Donghae menggerutu sendiri. Ia kepalkan tangannya
geram.
“Kurasa
Siwon tersenyum pada semuanya, tidak pada Yoona saja.” celetuk Kyuhyun.
“Tetap
saja disana ada Yoona.”
Kyuhyun mencibir. “Kalau aku jadi kau hyung, aku akan ada disana
sekarang. Dengan duduk diantara mereka kau bisa tahu semua yang terjadi. Tidak
perlu memata-matai seperti ini.”
Donghae tersenyum kecut.
Andai ia berada diantara mereka pasti suasana canggung yang tercipta.
“Tapi
sepertinya benar Siwon masih memendam perasaan pada Yoona.” celetuk Kyuhyun lagi.
“Benarkah?
Sudah kuduga.”
merasa mendapat dukungan, Donghae mengangguk-angguk mantap. Ia serasa diatas
angin sekarang. “Aku
sudah curiga sejak awal.”
lanjutnya.
“Lalu
Yoona? Kau tidak percaya pada istrimu?”
“Entahlah,
aku ragu.”
“Menurutku
Yoona hanya menganggap Siwon sebagai teman. Tatapan matanya berbeda hyung.” analisa Kyuhyun sok tahu.
“Aku
harap begitu.”
Donghae tersenyum tipis. Tapi tetap saja ia merasa gelisah.
Mereka terus saja berceloteh
tak jelas. Mengomentari setiap yang dilakukan Siwon ataupun Yoona. Lama-lama
terlihat seperti komentator sepakbola yang sedang mengawasi jalannya
pertandingan.
___
“Terimakasih
Siwon oppa untuk makan malamnya. Aku akan pulang bersama Yuri onnie dan Yesung
oppa.” pamit Yoona.
Siwon tahu kalau
permintaannya untuk mengantar Yoona pulang pasti ditolak mentah-mentah. Dan ia
paham alasannya kenapa.
“Lain
kali ajaklah suamimu.”
ucapnya basa-basi.
Yoona mengangguk sambil
tersenyum kecil. Ia membungkuk sekilas sebelum berlalu menuju mobil Yesung.
Mata Siwon terus mengekor
kepergian Yoona. Harus diakui, ia masih punya rasa pada gadis itu. Namun segera
ia menggeleng, ditepisnya sendiri perasaannya.
Audi hitam itu mulai melaju
pelan. Yoona memicingkan matanya sejenak. Sedikit ada yang menggelitik
penglihatannya. Entah benar atau hanya perasaannya saja. Ia merasa yang ia
lihat begitu nyata.
“Ada
apa?” tanya Yuri heran.
Yoona menggeleng. “Tidak, sepertinya tadi aku melihat mobil Kyuhyun.”
“Mungkin
Kyuhyun sedang berkencan dengan Seohyun. Kau bilang mereka sekarang pacaran
kan?”
“Mungkin.” jawab Yoona ragu. “Yesung oppa, bisakah kau cepat sedikit? Aku sudah
tidak tahan ingin buang air kecil.” bohongnya.
Meski heran Yesung
mengangguk. “Baiklah.” ucapnya.
“Kenapa
tidak di restoran tadi?”
tanya Yuri.
“Tadi
belum ingin onnie.”
Padahal yang sebenarnya ia
ingin memastikan sesuatu.
___
Yoona melangkah cepat
memasuki apartmentnya lalu tergesa menuju kamarnya. Disana ia menemukan Donghae
tengah bergumul dalam selimut.
“Kau
sudah pulang?”
Yoona tidak menjawab tapi
malah mendekati Donghae dan balik bertanya. “Kau sudah tidur? Ini kan baru jam sembilan.”
“Memangnya
kenapa? Aku sendirian jadi aku ngantuk sekali.”
“Benarkah?
Apa kau sudah makan malam?” selidik Yoona.
“Sudah,
tadi aku beli jjajangmyeon.” Donghae kembali memejamkan matanya, berharap Yoona
tidak tanya-tanya lagi.
Berhasil, Yoona beralih ke
lemari untuk berganti piyama. Dan kini ia berkutat pada meja rias sibuk
membersihkan sisa make up nya.
Tak berapa lama ia ikut
merebahkan tubuhnya disamping Donghae.
“Donghae
oppa, kau dari mana? Kenapa memakai parfum?” tanyanya tiba-tiba. “Tidak biasanya mau tidur pakai parfum.”
Donghae menggerutu dalam
hati. Benar saja meski ia telah berganti piyama, parfumnya tadi tetap saja
tercium. Dan kejelian Yoona membuatnya tak bisa berkutik.
Karena tidak menemukan
jawaban yang pas, Donghae tidak menjawab. Ia memilih diam masih memejamkan
matanya pura-pura tidur.
Tapi diluar dugaan Yoona
malah tertawa kecil. “Tadi
kau bersama Kyuhyun mengikutiku kan?” tebaknya telak.
Donghae tetap saja tak mau
membuka matanya.
“Aku
tahu Donghae oppa, dan aku juga tahu kau pura-pura tidur.”
Yoona kini memeluk erat
suaminya itu. “Apa
dengan cara seperti ini kau belum percaya padaku?” tanyanya.
Donghae tetap tak bergeming
meski hatinya berdesir hebat.
“Donghae
oppa.” panggil Yoona lagi,
suaranya dibuat semanja mungkin.
Tetap tak ada reaksi.
Yoona semakin gencar
melancarkan aksinya. “Baiklah,
selamat malam Donghae oppa.” bisiknya mesra. Sedikit nakal ia mencium bibir
Donghae pelan.
“Im
Yoona, kau ini kenapa? Aku ngantuk, aku ingin tidur.” pekik Donghae akhirnya, kini ia berbalik membelakangi
Yoona.
Membuat Yoona tertawa puas
karenanya.
___
“Tunggu!!
Yoona.. Yoongie..”
teriak Donghae berulang-ulang. Percuma, Yoona telah memutus sambungan telepon
itu sepihak. Ia mendesis jengkel begitu sadar yang dilakukannya ini sia-sia.
Dan ia semakin geram saat
matanya tanpa sengaja menancap pada jam yang terpampang di dinding kamarnya.
Jam 8 malam dan Yoona berkeliaran seorang diri diluar sana.
Memang Yoona bukannya
berkeliaran sembarangan, melainkan baru saja selesai mengerjakan tugas bersama
Seohyun di perpustakaan kampus. Dan kali ini ia akan mampir sebentar ke rumah
ibunya. Tadi Yuri menelepon, ada hal penting katanya. Ia sudah menjelaskan
semua pada Donghae. Tapi yang membuat Donghae sedikit tidak terima adalah Yoona
tidak mau dijemput dan memilih pergi sendiri.
Donghae melajukan mobilnya
cepat. Jalanan Seoul yang lengang tampak memudahkannya.
Tepat saat ia meminggirkan
mobilnya, Yoona baru saja turun dari taksi.
“Donghae
oppa?” herannya.
Donghae segera turun
menghampiri Yoona. “Harusnya
aku menjemputmu ke kampus lalu mengantarmu kesini. Ini sudah malam Yoong. Kalau
terjadi sesuatu denganmu bagaimana? Kalau ada orang jahat bagaimana?
Akhir-akhir ini banyak terjadi tindak kriminal di Seoul.” omelnya.
Yoona hanya tersenyum
menanggapi ocehan Donghae yang dirasanya berlebihan itu. “Kalau kau menjemputku ke kampus lalu kesini itu hanya
buang-buang waktu Donghae oppa. Arahnya kan berlawanan. Tenanglah, aku bisa
jaga diri.”
diapitnya lengan Donghae dan dituntunnya masuk.
“Tetap
saja tidak baik seorang gadis malam-malam berkeliaran seorang diri.”
Yoona tertawa. “Aku bukan gadis lagi.” ucapnya enteng.
“Heh?” Donghae menggaruk kepalanya sendiri. “Tapi kau itu.. “
“Istrimu.” potong Yoona cepat. “Ne, kau sudah berulang kali mengatakannya Donghae
oppa.”
“Kenapa
kalian?” heran Yuri mendapati
adik dan adik iparnya itu ribut sendiri.
“Onnie..” Yoona beralih ke Yuri. “Ada apa menyuruhku datang?”
“Bukan
hal penting sebetulnya. Hanya memintamu membantu memilihkan gaun dan sepatu.
Besok Yesung oppa akan mengenalkanku pada keluarga besarnya di Busan. Aku
bingung sekali harus memakai apa.” rengek Yuri. Khas kegugupan akan bertemu calon
mertua.
“Wah,
berarti Yesung oppa sudah serius sekali ya onnie. Padahal aku masih berharap
kau bisa jadi dengan Siwon oppa.” tanpa sadar Yoona mengucapkannya.
“Ehm,
eomma dimana ya? Aku mau mencari eomma.” sela Donghae cepat. Jika sudah menyangkut nama Siwon
akan selalu membuat telinganya panas. Jadi ia lebih memilih pergi.
Dan Yoona paham betul itu. “Sepertinya aku salah bicara.” sesalnya.
Yuri tersenyum. “Soal Siwon?”
Yoona mengangguk.
“Tadi
siang sebenarnya Siwon datang kesini.” lanjut Yuri berbisik. “Tapi aku tidak tahu kenapa tiba-tiba eomma bersikap
dingin padanya. Aku jadi tidak enak.”
“Benarkah?
Memangnya kenapa onnie?”
“Aku
juga tidak tahu. Mungkin eomma sedang sehati dengan menantu kesayangannya itu.” Yuri menanggapinya setengah bercanda.
“Entahlah.” Yoona menggedikkan pundaknya. “Ayo onnie ke kamarmu, kita pilih baju yang pas
untukmu. Aku jamin keluarga Yesung oppa akan terpesona dengan calon menantunya
yang cantik ini.”
Yuri langsung terkekeh
mendengarnya.
___
“Seohyunnie..” Yoona berteriak kegirangan. Dihampirinya gadis itu
tanpa peduli pada Kyuhyun yang manyun disamping Seohyun. “Bagaimana acara kencanmu semalam?”
“Onnie.” pipi Seohyun mulai merona malu dengan pertanyaan
Yoona itu.
“Apa
dia sudah berani melakukan sesuatu padamu?” diliriknya Kyuhyun.
Seohyun menggeleng lemah.
“Apa
tidak bisa kau bergosip nanti saja kalau orangnya tidak ada?” cela Kyuhyun.
Yoona semakin terbahak
dibuatnya. Ia hanya membentuk huruf V dengan dua jarinya. Membuat Kyuhyun
semakin merengut saja.
“Oh
iya, Kyu apa sekarang kau punya pekerjaan sampingan memata-matai orang?” tanyanya.
Kyuhyun bengong tak mengerti,
tapi ia sedikit paham pembicaraan ini mengarah kemana.
“Maksudmu
apa onnie?”
justru Seohyun yang penasaran.
“Tanyakan
pada pacarmu itu.”
Seohyun beralih menatap
Kyuhyun meminta jawaban.
“Itu
sebenarnya…
” Kyuhyun bingung
sendiri bagaimana cara menjelaskannya. Ditambah Seohyun yang menatapnya semakin
lekat, membuatnya jadi salah tingkah.
“Begini
Seohyun.. ”
lagi-lagi ia tak bisa bicara, ia kemudian beralih ke Yoona. “Donghae hyung yang memintaku menemaninya mengikutimu.
Ia juga meminta membawa mobilku agar tidak ketahuan. Tapi ternyata ketahuan
juga.”
“Kalian
tidak profesional.”
cibir Yoona.
“Aku
masih butuh penjelasanmu Kyuhyun oppa.” tegas Seohyun.
“Ne,
nanti kuceritakan semuanya. Ini gara-gara dia.” ditunjuknya Yoona, yang dimaksud malah semakin
tertawa lepas.
“Choi
Siwon.” desis Kyuhyun
tiba-tiba.
Yoona dan Seohyun refleks
menatap ke arah Kyuhyun memandang. Benar, Siwon dengan senyum manisnya berjalan
menghampiri mereka. Sang limousin putih terparkir tak jauh darinya.
“Annyeong,
apa aku mengganggu kalian?” tanyanya basa-basi.
Yoona menggeleng. “Kenapa kau bisa ada disini Siwon oppa?” ditunjuknya kursi disebelahnya agar Siwon duduk.
Siwon menurut, ia duduk
persis dihadapan Kyuhyun itu. “Aku sengaja mencarimu, aku butuh sedikit bantuan. Kau
bisa kan?”
“Bantuan
apa?”
“Bisa
temani aku membeli hadiah untuk temanku? Rencananya aku akan membeli jam
tangan. Kurasa kau bisa memilihkan yang cocok karena dia juga wanita.”
Yoona terlihat ragu, banyak
hal yang ia pikirkan. Jadi serba salah. Ia menatap Seohyun meminta pendapat.
Sementara dikolong meja berkali-kali kaki Kyuhyun menendang kakinya. Ia sadar
betul kenapa Kyuhyun melakukan itu. Selain karena Kyuhyun sahabatnya, Kyuhyun
dan Donghae adalah saudara sepupu.
“Mianhae
Siwon oppa, tapi aku akan pergi dengan Kyuhyun dan Seohyun.” terdengar sekali nada menyesal di ucapan Yoona.
“Oh,
begitu ya.”
ucap Siwon kecewa.
“Sekali
lagi maaf.”
Yoona menunduk hormat.
“Kami
akan pergi double date, tapi menunggu Donghae hyung pulang kantor dulu.” sambung Kyuhyun membual.
Mesti Yoona tahu yang
diucapkan Kyuhyun adalah sebuah kebohongan, ia biarkan saja.
“Kalau
begitu bolehkan aku ikut duduk disini sebentar? Kalian tidak pergi sekarang
kan?” Siwon menatap Yoona,
Seohyun, dan Kyuhyun bergantian.
Yoona mengangguk. Seohyun
larut dalam diam tak mau ikut campur. Kyuhyun ribut sendiri tidak jelas sedari
tadi. Dan Siwon tetap dengan raut tenangnya. Lama-lama Yoona mulai jengah
dengan situasi seperti ini. Mengingat statusnya sekarang, ia jadi sedikit risih
dengan kehadiran Siwon.
___
“Aku
harap kau jaga baik-baik Yoona. Kalau tidak aku bisa saja merebutnya kembali
darimu.”
Hanya dua buah kalimat
singkat tapi cukup membuat Donghae dan Siwon saling pandang sengit.
Ini untuk pertama kalinya
mereka bertatap muka secara dekat. Pertama kalinya pula mereka saling bicara.
Dan aura asing terasa begitu kental menyelimuti. Disini mereka tak sengaja
bertemu, di toilet hotel tempat diadakannya pertemuan penting antar beberapa
perusahaan besar. Perusahaan milik Siwon dan perusahaan tempat Donghae bekerja
adalah salah satunya.
Donghae memandang cermin
tempat dimana bayangannya dan Siwon memantul. “Tanpa kau suruh, aku pasti akan melakukannya. Karena
Yoona istriku.”
tegasnya.
Siwon tersenyum kecil.
Merapikan dasinya sebentar, lalu pergi. Membiarkan Donghae mematung seorang
diri.
Dan Donghae sungguh muak dengan
sikap Siwon barusan. Menurutnya itu terlalu angkuh. Dengan emosi ia nyalakan
kran wastafel hingga airnya mengalir deras. Berkali-kali ia membasuh wajahnya
sendiri.
Kenapa harus muncul perasaan
ini? Rasa tidak terima tapi berakhir dengan ketakutan akan kekalahan. Merasa
kecil, merasa kerdil, dan merasa tak berdaya. Ia merasa telah dipecundangi oleh
namja bernama Choi Siwon itu.
___
Donghae melangkah gontai
memasuki apartmentnya. Mukanya terus ditekuk masam. Seharian ini ia sungguh
tidak bersemangat.
Dilihatnya Yoona tampak sibuk
menata pakaian dalam lemari. Ia hampiri istrinya itu dan dipeluknya dari
belakang.
“Kau
sudah pulang?”
kaget Yoona.
Donghae tak menjawab malah
semakin mempererat pelukannya.
Yoona mengkerutkan keningnya
heran. Tidak biasanya Donghae seperti ini. “Kenapa?” tanyanya.
“Tak
apa. Aku hanya ingin memelukmu seperti ini. Memangnya tidak boleh?”
“Tentu
saja boleh.”
Lama mereka dalam posisi
seperti itu. Donghae seakan ingin menegaskan bahwa orang dalam dekapannya ini
adalah istrinya, miliknya.
“Donghae
oppa, sana mandi.”
perintah Yoona. Ia berbalik menatap Donghae dan menemukan wajah murung suaminya
itu. “Ada masalah?” tebaknya.
“Tidak
ada. Ne, aku akan mandi.”
Donghae tersenyum sebentar tapi senyum itu terkesan kaku dan dipaksakan.
Dan Yoona adalah tipikal
orang yang sangat teliti. Sedikit saja ada kejanggalan ia pasti bisa
membacanya. Ia rasa ada sesuatu yang tidak beres yang telah terjadi.
“Donghae
oppa, tunggu.”
ditahannya tangan Donghae yang hendak pergi.
Secepat kilat Yoona
mendaratkan ciuman di pipi kanan suaminya itu.
“Hanya
disini?” goda Donghae, ia
menunjuk pipinya sendiri. Kali ini dengan senyum yang lebih tulus dari yang
tadi.
“Kalau
kau menceritakan masalahmu, aku akan menciummu disini.” tawar Yoona, ia meletakkan telunjuknya di bibir
Donghae.
Namun Donghae segera
menepisnya. “Aku
bisa melakukannya sendiri.” ucapnya. Kini gilirannya yang memagut bibir Yoona
mesra.
“Sudah,
sana mandi.”
Yoona mendorong tubuh Donghae pelan.
Donghae tetap tak beranjak
dari tempatnya. Ia terus menatap Yoona lekat. “Kau mencintaiku?” tanyanya.
“Pertanyaan
apa itu? Kalau aku tidak mencintaimu aku tidak akan ada disini!”
“Ne,
mungkin kau ada di Paris sekarang.”
“Donghae
oppa, jangan mulai lagi. Aku tidak suka membahas hal-hal yang tidak penting.” Yoona mempertegas setiap katanya.
Menurut perkiraannya, Donghae
akan membalas kata-katanya dan terjadilah perdebatan konyol seperti biasanya.
Tapi Yoona salah, Donghae
justru menyunggingkan senyum termanisnya sambil berlalu pergi. Aneh sekali,
lagi-lagi Yoona merasa senyum Donghae itu terasa hambar.
___
Malam hari, Yoona tengah
bersiap untuk tidur. Disampingnya Donghae masih berkutat dengan laptopnya.
Sejak sore sikapnya tidak berubah. Masih dingin, murung, dan terlihat
menyedihkan.
“Donghae
oppa.” panggilnya. Sudah
diputuskan ia harus bicara. Ia tak ingin semua ini berlarut-larut tanpa
kejelasan. Apalagi melihat wajah Donghae yang terus tertutup awan kelabu itu.
“Banyak
pekerjaan yang harus kuselesaikan.” bahkan menolehpun tidak Donghae lakukan.
“Aku
tahu ada sesuatu yang mengganjal dihatimu. Katakan saja. Apa ini ada
hubungannya dengan Choi Siwon?” terka Yoona. Dihembuskannya nafasnya pelan. “Aku lebih suka kau yang ngambek, marah-marah tidak
jelas dan bersikap layaknya anak kecil karena cemburu dibanding kau yang
seperti ini.”
Donghae mematikan laptopnya
lalu memasukkan benda hitam itu ke tas laptop dan menaruhnya di meja sisi
ranjangnya. Tapi ia tetap tak berucap sepatahkatapun.
“Kau
tahu Donghae oppa? Aku memang bukan orang yang pandai mengumbar kata-kata. Aku
jarang mengatakan aku mencintaimu. Karena aku merasa tanpa aku mengatakannya,
harusnya kau sudah merasakannya. Jadi percayalah padaku antara aku dan Siwon
oppa tidak ada perasaan apapun selain teman.”
“Bukankah
seharusnya kau membenciku, bukannya malah memilihku.” gumam Donghae lirih.
“Apa
maksudmu?”
“Tidakkah
kau pernah berpikir bahwa menikah denganku adalah sebuah kesalahan?”
“Aku
tidak mengerti yang kau katakan.” elak Yoona, ia ingin menghindar padahal ia sendiri
yang memulai pembicaraan ini. “Aku tidak suka mengungkit masa lalu Donghae oppa.” tegasnya.
Donghae tersenyum miris. “Aku bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Dibanding
Choi Siwon, aku hanyalah gumpalan debu yang hilang dengan sekali tiupan.”
“Benar
kan dugaanku? Siwon oppa lagi? Apa yang harus kau takutkan? Aku istrimu,
milikmu, itu sudah jelas.”
“Tapi
caraku mendapatkanmu adalah dengan cara merebutmu darinya. Bukankah aku jahat
sekali?”
Tanpa sadar kristal bening
mulai mengalir pelan dari pelupuk mata Yoona, ia menangis. “Aku tidak pernah mempermasalahkan apa yang pernah
terjadi di masa lalu kita. Tapi kenapa kau mengungkitnya lagi Donghae oppa?”
Menyadari Yoona menangis,
Donghae sedikit luluh. Diraihnya tangan Yoona dan digenggamnya erat. Lalu
direngkuhnya Yoona dalam pelukannya. Tanpa berkata apapun lagi ataupun
memperpanjang masalah ini. Sekedar tak ingin membuka luka lama.
Namun ia masih sempat
membatin. “Aku
yakin dia masih mencintaimu Yoong. Dan aku begitu takut kehilanganmu.” ucapnya dalam hati.
___
“Donghae
oppa, kurasa kita memang butuh lebih banyak waktu untuk berdua seperti ini.” Yoona merangkul Donghae, duduk disofa menonton TV dan
bermalas-malasan berdua seharian.
Donghae mengangguk. “Dan kita perlu bicara dari hati ke hati.”
“Saling
jujur dan tidak ada kebohongan.” imbuh Yoona.
“Baik,
tapi tidak boleh marah.”
Yoona tersenyum mencibir. “Bukannya kau yang sering marah tidak jelas?” sindirnya.
“Kali
ini tidak, ayo mulai.”
Donghae menggeser duduknya, hingga menghadap Yoona. “Siapa cinta pertamamu?” tanyanya.
“Aku
lupa.”
“Harus
jawab Yoong.”
“Choi
Minho. Dia dulu tetangga sebelah rumahku tapi sudah pindah. Aku rebutan dengan
Yuri onnie. Padahal dia lebih muda dari kami.” Yoona tertawa geli mengingatnya.
“Lalu
pacar pertamamu?”
“Kakak
kelasku waktu SMP, Kim Kibum.”
“Apa?
Jadi kau pacaran sejak masih SMP? Hahaha..” Donghae tertawa puas.
Yoona memanyunkan bibirnya. “Giliranku, aku gadis keberapa untukmu?”
“Pertama.”
“Bohong.”
“Aku
tidak bohong Yoong, saat ini kau memang yang paling penting bagiku.”
“Maksudku,
aku pacarmu yang keberapa?” ralat Yoona.
“Memangnya
kita pernah pacaran?”
Donghae justru balik bertanya.
Yoona mendesis jengkel
sendiri. “Aku
tahu kau pasti mengerti maksud pertanyaanku.”
“Ke
empat.” jawab Donghae
akhirnya.
“Apa?
Banyak sekali. Ternyata kau playboy juga Donghae oppa.”
“Sembarangan.” Donghae tidak terima. “Jawab yang jujur Yoong, apa kau pernah membenciku?”
Yoona menggeleng tapi
kemudian mengangguk.
Donghae tersenyum simpul. “Aku tahu. Sekarang katakan apa saja yang pernah kau
lakukan selama pacaran dengan Choi Siwon?” lanjutnya mulai serius.
“Melakukan
apa? Yang jelas masih dalam batas wajar orang pacaran.”
“Benarkah?” selidik Donghae. “Batas wajar orang pacaran itu seperti apa? Pegangan
tangan? Ciuman?”
“Kau
pasti tahu sendiri Donghae oppa.” pekik Yoona. “Justru yang diluar batas itu aku melakukannya
denganmu.”
gerutunya.
“Kenapa
bawa-bawa aku?”
“Sudahlah,
aku tidak mau lagi cerita padamu.” Yoona cemberut sambil memeluk bantal sofa.
Beruntunglah terdengar bel apartment
mereka yang berbunyi nyaring.
“Kau
yang buka.”
perintah Yoona seenaknya
Meski malas, Donghae tetap
menyeret kakinya. Tak berapa lama ia kembali lagi. Membawa sebuket mawar merah
dan raut wajah yang berubah getir.
“Untukmu.” dengan sinis diserahkannya rangkaian bunga
ditangannya pada Yoona.
Setelah tahu nama Choi Siwon
tertera sebagai pengirimnya, bunga itu justru Yoona lempar asal. “Buang saja.”
Baginya, ini membuatnya tidak
nyaman. Dan bagi Donghae, ini sudah keterlaluan.
Alhasil mereka saling membisu
berdua. Dengan bunga indah yang tergolek tak berdaya dilantai.
___
Lagi-lagi kesekian kalinya,
disetiap jam makan siang Siwon selalu menghampiri Yoona ke kampusnya. Entah
tujuannya apa, yang jelas ini mulai rutin ia lakukan. Meski hampir tidak pernah
bertemu Yoona karena Yoona terus saja menghindar. Seperti kali ini, ia rela
duduk dikantin ditemani Kyuhyun dan Seohyun yang mulai bosan.
“Siwon-ssi,
kenapa kau selalu datang kesini? Apa kau tak punya pekerjaan lain?
Ngomong-ngomong kau masih menyukai Yoona ya? Dia kan sudah menikah. Apa kau tak
malu mencintai istri orang? Harusnya kau cari yeoja lain saja. Kau kan tampan,
pasti banyak yang mau denganmu.” Kyuhyun mulai bertanya macam-macam. Untuk ukuran
orang yang tak begitu kenal, ini sungguh lancang.
Seohyun saja sudah gemetar
gugup dengan tingkah Kyuhyun itu. Takut Siwon tersinggung atau apa.
Siwon tersenyum tipis. “Kapan aku pernah bilang masih mencintai Yoona?”
“Dari
sikapmu sudah kentara.”
“Lalu
kalau iya kenapa? Itu bukan urusanmu kan?”
Kyuhyun menggertakkan giginya
geram. “Tapi dia sudah
menikah.”
bentaknya.
Siwon tetap menanggapinya
dengan tenang. “Lalu?
Seharusnya kan aku yang menikah dengannya.”
“Bukankah
dulu kau terima? Kau sudah merelakannya? Ternyata kau bermuka dua.” Kyuhyun terus melontarkan omongannya yang pedas.
Meski Siwon menanggapinya dengan tenang, dengan nada bicara yang pelan, tetap
saja itu terlihat menyebalkan baginya.
“Ne,
kau benar. Aku memang terima, aku berusaha ikhlas, tapi kenyataannya sekarang
aku menyesal.”
“Lalu
apa yang akan kau lakukan? Merebut Yoona dari Donghae hyung? Jangan harap, itu
tidak adil bagi mereka.”
“Lalu
apa ini adil bagiku? Tunanganku yang hampir menikah denganku kini menikah
dengan orang lain. Sekarang siapa yang merebut dari siapa?” Siwon sedikit menaikkan nada suaranya, ini terlalu
pahit untuk ia umbar.
Kyuhyun terdiam, entahlah
kalau bicara siapa yang benar siapa yang salah tentu takkan ada ujungnya.
“Siwon-ssi,
kalau aku boleh ikut bicara tetap saja ini tidak benar.” potong Seohyun hati-hati. “Aku mencoba melihat dari sudut pandang orang lain yang
tak ada hubungan dengan Donghae oppa ataupun Yoona onnie. Aku tidak
menyalahkanmu. Hanya, berusaha memisahkan hubungan orang yang saling mencintai
itu pada akhirnya akan menyakiti dirimu sendiri. Kau tak mau sakit untuk kedua
kalinya kan? Karena aku melihat cinta antara Donghae oppa dan Yoona onnie itu
tulus. Maaf kalau aku lancang, aku tidak bermaksud untuk mengguruimu. Aku hanya
menyampaikan pendapatku saja.”
“Ne,
Seohyun-ssi aku tahu kau orang yang berpikir realistis. Aku juga tidak sejahat
itu. Aku hanya ingin menyampaikan perasaanku tanpa bermaksud menyakiti
siapapun. Sepertinya aku harus pergi. Aku tidak mau suasana disini jadi tidak
enak gara-gara aku.”
Siwon membungkuk kecil terlebih dulu sebelum melenggang pergi.
“Menyebalkan.
Harusnya kau bilang padanya jangan ganggu-ganggu Yoona lagi.” gerutu Kyuhyun kesal.
Seohyun hanya menepuk-nepuk
punggung tangan Kyuhyun. Berharap kekasihnya itu sedikit lebih tenang.
___
“Bagaimana?
Cantik bukan?”
Yuri memperlihatkan sebuah gelang berbandul bulan dan bintang.
Yoona mengangguk. “Tapi aku tidak bisa menerimanya onnie.” tolaknya karena gelang itu titipan Siwon.
“Kenapa?
Karena Donghae? Bilang saja ini kau beli sendiri. Sayang kan kalau kau menolak
barang sebagus ini.”
“Mian
onnie, aku tetap tidak bisa. Aku tidak mau memperuncing masalah.”
“Ya
sudah, nanti akan kukembalikan pada Siwon.”
“Sekalian
katakan padanya, jangan lagi memberi sesuatu pada istri orang.” tiba-tiba Nyonya Kim, ibu mereka menyahut dengan
sinisnya.
“Eomma.” Yoona dan Yuri menoleh bersamaan.
“Dan
kau Yuri, jangan terlalu dekat dengannya meski sebatas sahabat. Ingat,
pertunanganmu dengan Yesung tinggal menghitung hari.”
“Ne,
eomma.” Yuri mengangguk
lemah.
Nyonya Kim beralih ke Yoona. “Eomma ingin bicara denganmu sebentar.” ajaknya.
Yoona menurut, ia ikuti
langkah eommanya.
Nyonya Kim duduk di ruang
makan sambil menyesap teh hangatnya. Ia menghembuskan nafasnya pelan. “Kau mencintai Donghae kan?”
Yoona menautkan alisnya. Kenapa
tiba-tiba eommanya bertanya seperti itu. “Tentu saja eomma.” jawabnya.
“Beberapa
minggu lalu Siwon datang kesini. Dia memintamu dari eomma. Bagi eomma, itu
sebuah penghinaan. Ibu waras mana yang akan menyerahkan putrinya pada laki-laki
lain sementara putrinya itu sudah menikah?”
Yoona membekap mulutnya
sendiri. Belum sepenuhnya percaya Siwon sanggup berbuat seperti itu. Tapi
tuturan itu keluar dari mulut ibunya sendiri. Tunggu, ia menerka-nerka. Inikah
yang membuat eommanya bersikap dingin pada Siwon seperti yang pernah
diceritakan Yuri?
“Kau
tahu Yoona? Ikatan pernikahan itu suci. Pernikahan bukan sebuah permainan yang
mudah ditentukan kapan mulai dan kapan berakhir. Siwon memang orang baik tapi
dia tak lebih dari bagian masa lalumu. Tak peduli bagaimana mulanya sekarang
suamimu adalah Donghae. Eomma harap kau tetap setia.”
Yoona manggut-manggut. “Ne, eomma. Perlahan-lahan Donghae oppa telah mengambil
perasaanku yang dulu sempat kuberikan pada Siwon oppa. Sekarang, perasaanku
pada Siwon oppa hanya sebagai teman. Yang aku cintai Donghae oppa, aku yakin
itu eomma.”
Nyonya Kim tersenyum. “Mungkin ada baiknya kau menghindari Siwon.” sarannya.
Lagi-lagi Yoona mengangguk.
Jadi selama ini benar Siwon masih mencintainya. Jadi rasa cemburu Donghae
selama ini yang menurutnya tidak mendasar itu cukup beralasan.
“Eomma
yakin dia pasti datang di pesta pertunangan Yuri. Sebisa mungkin kurangi
berinteraksi dengannya.”
pesan Nyonya Kim lagi. “Apalagi
nanti ada Donghae, eomma tak ingin ada masalah diantara kalian.”
Yoona baru tersadar. Iya,
pertunangan Yuri akan diadakan sebentar lagi. Ia terlalu memikirkan banyak hal
hingga hampir saja melupakan momen penting itu.
___
Duduk Yoona ditengah-tengah
keluarga besarnya juga keluarga besar Yesung. Donghae tetap setia disisinya.
Didepan sana, acara inti baru
saja usai. MC masih terus menggoda Yuri dan Yesung dengan candaan-candaannya.
Sampai tiba saatnya acara
dansa. Sebagai pasangan pertama tentu Yuri dan Yesung. Hingga satu persatu
pasangan mulai menyusul. Saling merangkul mesra menikmati lagu yang mengalun.
“Donghae
oppa, ayo kita dansa.”
ajak Yoona, ia merengek menarik tangan Donghae.
“Tidak
mau, lagunya membuatku ngantuk.” Donghae malah sibuk sendiri memakan hidangan yang
tersaji di meja.
“Dasar.” gerutu Yoona.
Tiba-tiba tanpa ia sadari
Siwon tengah berjalan ke arahnya. “Mau berdansa denganku?”
Suasana mendadak hening.
Tangan Siwon tetap mengulur di depan Yoona yang jelas-jelas ada Donghae di
sampingnya. Donghae meneguk segelas air putih di depannya dengan emosi. Ini
sudah di ambang batas kesabarannya.
“Mianhae,
aku tidak bisa.”
tolak Yoona halus. Ia terus menggenggam tangan Donghae agar tetap tenang.
Siwon menarik kembali
tangannya tanpa rasa canggung sedikitpun. Ia masih sempat tersenyum manis. “Tak apa, kau cantik hari ini.” ucapnya sebelum berbalik pergi.
Donghae sudah tidak sanggup
lagi menahan amarahnya. Ingin sekali ia mengejar Siwon lalu menghajarnya. Tapi
Yoona terus saja menahan lengannya agar emosinya tidak memuncak.
“Donghae
oppa, lebih baik kita pulang.” Yoona menarik paksa Donghae. Bahkan tanpa sempat
berpamitan pada Yuri, Yesung, ataupun eommanya. Ia sudah tak memperdulikan itu
semua. Baginya, tetap disini hanya akan memperkeruh keadaan.
Suasana hati Donghae saat ini
sungguh kacau. Sepanjang jalan ia kemudikan mobilnya ugal-ugalan. Dan Yoona
terus saja membisu. Ia paham mood Donghae pasti sangat buruk sekarang.
Bahkan begitu sampai di depan
apartment ia tetap tak beranjak dari balik kemudi dan tak kunjung memarkirkan
mobilnya. “Aku
mau pergi sebentar Yoong, turunlah.” perintahnya.
“Pergi
kemana?”
“Sebentar
saja, nanti aku pasti pulang.”
“Kalau
begitu aku ikut.”
“Aku
sedang ingin sendiri Yoong.”
“Tapi…”
“Tenanglah,
aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku hanya ingin sendiri, itu saja.”
“Baiklah.” meski enggan toh Yoona akhirnya turun dari mobil
Donghae.
Perasaannya was-was apalagi
saat Donghae kembali melajukan mobilnya entah kemana.
___
Malam telah larut. Yoona
belum sekalipun memejamkan matanya padahal ia sangat lelah. Apalagi tidur,
bernafas saja rasanya sesak. Ia terus saja gusar. Donghae belum juga pulang,
itu masalahnya. Berkali-kali ia coba hubungi, tapi handphonenya tidak aktif.
Mungkin Donghae sengaja mematikannya.
Baru saja Yoona akan pergi
keluar mencari Donghae karena sudah terlalu lelah menunggu. Saat tiba-tiba
pintu itu akhirnya terbuka.
“Donghae
oppa.” teriak Yoona
kegirangan. “Kau
baik-baik saja?”
Tanpa dijawab Yoona sudah
tahu jawabannya. Donghae terlihat kusut sekali. Ia tampak tidak baik-baik saja.
Jadi Yoona memutuskan untuk
tidak bertanya lebih banyak lagi.
Namun yang terjadi Donghae
justru mendekatinya dan memeluknya erat. “Maafkan aku Yoong.” bisiknya lirih.
“Kenapa
minta maaf padaku?”
“Karena
sejak awal memang aku yang salah. Aku yang merebutmu darinya. Jadi akan lebih
baik kalau sekarang aku melepasmu seperti yang seharusnya.”
Yoona menghempaskan pelukan
Donghae padanya. Ia tidak suka Donghae menyalahkan dirinya sendiri dan bersikap
seperti ini.
“Donghae
oppa, seberat apapun masalah yang terjadi diantara kita, jangan pernah berpikir
untuk mencari jalan sendiri-sendiri. Rintangan apapun akan mudah terlewati jika
kita tetap di jalan yang sama.” teriak Yoona parau, matanya berkaca-kaca memandang
nanar Donghae.
“Lalu
apa yang bisa kulakukan? Dia terang-terangan menyukaimu didepanku. Dan aku tak
sanggup berbuat apa-apa. Aku merasa tidak berguna Yoong.”
“Aku
yang akan menyelesaikan semuanya, sekarang juga.” dengan berurai airmata, Yoona melangkah pergi. Ia
yakin yang dilakukannya ini benar.
“Kau
mau kemana?”
Bahkan panggilan Donghae tak
ia gubris sama sekali.
___
Cuaca Seoul yang dingin
dimalam hari sungguh tidak mendukung. Yoona berdiri seorang diri didepan
gerbang tinggi kediaman keluarga Choi. Saat pelayan disana menyuruhnya masuk
pun ia tak peduli. Ia terus menunggu Choi Siwon. Walau pelayan itu mengatakan
Siwon sudah tidur dan mereka enggan untuk membangunkan. Ia tidak menyerah, ia
terus bertekad untuk menunggu.
Donghae terus melihat apa
yang dilakukan Yoona dari dalam taksi. Jaraknya dekat sekali, tapi Yoona tidak
mengetahui keberadaannya. Ingin sekali ia merengkuh istrinya itu tapi matanya
dengan cepat menangkap sosok yang datang, Choi Siwon. Yah, namja itu akhirnya
keluar juga.
Yoona memaksakan tersenyum
getir. “Siwon oppa.” sapanya.
“Apa
yang kau lakukan malam-malam disini? Masuklah, kau kedinginan.” Siwon nampak khawatir bercampur heran dan juga kaget
dengan kehadiran Yoona.
Yoona menggeleng. “Aku hanya sebentar Siwon oppa. Aku ingin menyampaikan
sesuatu yang penting menyangkut hidupku.” tuturnya dingin.
“Apa?”
“Jauhi
aku.” pinta Yoona tegas.
Siwon bahkan hanya mematung
ditempatnya.
“Mianhae
kalau aku lancang. Aku mohon dengan sangat jauhi aku Siwon oppa. Aku sungguh
mulai tidak nyaman dengan keadaan ini. Aku sangat lelah.” ulang Yoona lagi.
“Tapi
kenapa? Bukankah kita selamanya teman?”
“Sikapmu
padaku tidak mencerminkan kalau kita teman. Aku tidak mau pernikahanku hancur
karena ini. Aku sudah menikah, aku punya suami. Tidak selayaknya kau terus
memberikan perasaanmu padaku.”
“Intinya
kau sedang memikirkan perasaannya kan?” Siwon tersenyum pahit. “Kenapa dulu kau tidak memikirkan perasaanku?”
“Mianhae,
semua yang terjadi itu diluar kuasaku. Aku tidak pernah merencanakannya, tapi
takdir yang membawaku pada Donghae oppa. Mianhae, jeongmal mianhae.” kali ini Yoona mulai menekuk kedua kakinya dan
berlutut pada Siwon.
“Apa
yang kau lakukan?”
bentak Siwon.
“Anggaplah
dengan cara seperti ini aku menebus kesalahanku padamu. Aku tahu Donghae oppa
bukan manusia serba sempurna. Kau jauh lebih baik darinya. Tapi hanya orang
bodoh yang menyia-nyiakan cintanya. Aku mencintainya Siwon oppa, sangat
mencintainya. Maaf karena telah mengambil kembali hatiku yang sempat tertanam
dihatimu. Dan kini hatiku itu telah sepenuhnya kupasrahkan padanya.” Yoona bahkan mulai terisak lirih.
“Berdirilah
Im Yoona.”
suruh Siwon lagi.
Yoona tetap tak bergeming.
Sementara didalam taksi
Donghae mulai resah. Ia melihat semua adegan itu dan hanya mampu bertindak
sebagai penonton setia. Lagi-lagi ia merutuki dirinya sendiri.
Siwon terlihat semakin
frustasi. “Baiklah,
akan kuturuti semua maumu tapi berdirilah.”
Ia hendak meraih tangan Yoona
untuk membantunya berdiri. Tapi Yoona dengan tegas menolak.
“Aku
tidak tahu kalau jadinya seperti ini. Kuakui, aku masih menyayangimu tapi aku
sama sekali tidak berniat untuk menjadi duri dalam rumahtanggamu. Aku hanya
ingin menunjukkan kalau aku masih peduli padamu, itu saja. Tapi sepertinya aku
tidak sadar diri sejak awal. Mianhae kalau aku keterlaluan. Sampaikan juga
maafku pada suamimu.”
ucap Siwon tulus. Sampai dititik ini ia tahu pada akhirnya ia tetap kalah.
“Siwon
oppa, terimakasih.”
untuk pertama kali sejak tadi Yoona baru mau menatap Siwon. “Kau orang baik, carilah gadis lain yang bisa
menyingkirkanku dari hatimu.” sarannya.
“Ne,
aku akan mencoba. Pulanglah, suamimu pasti sudah mencemaskanmu.”
Yoona tersenyum kecil
kemudian membungkuk sekilas. “Maaf telah mengganggu, selamat malam.” ia membalik tubuhnya dan berjalan pergi. Dan
langkahnya kali ini terasa lebih ringan.
Perlahan taksi yang
ditumpangi Donghae pun mulai menjauh sebelum Yoona sempat melihatnya.
___
Ya Tuhan, Yoona baru tersadar
kalau ini bukan lagi tengah malam. Ini sudah menjelang pagi. Dan ia masih
berkeliaran di fajar yang sepi. Tiba-tiba jadi teringat Donghae. Apa suaminya
itu mencemaskannya seperti biasanya atau tidak?
Yoona menggosokkan kedua
telapak tangannya. Rasanya dingin sampai menusuk tulang. Ia tetap berjalan
seorang diri.
Tanpa ia tahu, Donghae terus
mengikutinya dari belakang dalam jarak aman.
Yoona mengedarkan
pandangannya. Taman ini masih begitu sepi dan gelap. Hanya ada pencahayaan dari
beberapa lampu yang temaram. Entah apa yang membawanya kemari. Ia hanya
mengikuti tapakan kakinya.
Seorang diri ia duduk di
ayunan. Atas semua yang terjadi rasanya ia juga butuh ketenangan. Dan itu ia
temukan disini.
Donghae yang sejak tadi
membuntutinya perlahan mendekat. Dalam diam ia ikut duduk di ayunan sebelah
Yoona.
“Donghae
oppa?” kaget Yoona. “Kenapa kau bisa ada disini?”
“Sama
sepertimu. Kenapa kau bisa sampai kesini?”
“Kau
mengikutiku kan?”
tebak Yoona.
Donghae hanya tersenyum
simpul.
Yoona langsung tahu kalau
tebakannya tepat. “Kau
sendirian? Mana partnermu?” tanyanya.
“Siapa?”
“Kyuhyun,
memangnya siapa lagi? Kalian kan selalu bekerja sama untuk memata-mataiku.”
“Tidak,
aku sendirian Yoong.”
“Masih
marah?”
Donghae menggeleng. “Tidak ada alasan lagi untukku marah.” ia memandang Yoona lekat. Tatapannya penuh arti. Ada
rasa haru, bahagia, bangga, campur aduk jadi satu.
“Tunggu!!
Sejak kapan kau mengikutiku Donghae oppa?”
“Sejak
dari apartment.”
“Jadi
kau melihat semuanya?”
pekik Yoona histeris.
Donghae mengangguk. “Ne.” diacaknya rambut Yoona pelan.
“Kenapa?
Aku hebat kan?”
ujar Yoona menyombongkan diri.
“Ne,
hebat sekali. Aku tidak menyangka ternyata sedalam itu kau mencintaiku. Aku
jadi terharu Yoong.”
Donghae serius tapi juga setengah meledek.
“Apa
itu terlihat sangat memalukan?”
“Tidak,
kau terlihat sangat manis.”
Yoona merona malu menanggapi
pujian Donghae itu. “Jadi
masih tidak percaya padaku?”
“Masih.”
“Kenapa?” tanya Yoona kecewa.
“Aku
mau punya bayi.”
“Apa?” perkataan Donghae barusan sukses membuat Yoona
tercekat. “Perjanjiannya
kan setelah aku lulus kuliah.” pekiknya.
“Kapan
itu? Kira-kira setahun lagi, lama sekali.” gerutu Donghae.
“Yang
namanya perjanjian tetap perjanjian Donghae oppa. Pokoknya aku tidak mau punya
bayi dulu. Lagipula, aku sudah punya anak umur 5 tahun yang terjebak dalam
tubuh lelaki dewasa berumur 25 tahun.” ledeknya.
“Apa
maksudmu? Aku?”
Yoona langsung terbahak. “Ayo pulang Donghae oppa, aku ngantuk tidak tidur
semalaman.”
alihnya.
Belum ada satu langkah,
Donghae sudah lebih dulu meraih tangannya. Lalu merengkuhnya erat. Yoona hanya
tersenyum dalam dekapannya. Semoga akan seperti untuk selamanya.
___
Incheon airport, Siwon
berkali-kali melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Harusnya orang
yang ia tunggu sejak tadi sudah tiba. Tapi nyatanya..
Seorang gadis berkulit putih
melambaikan tangan padanya. Akhirnya..
“Aku
kira pesawat menurunkanmu di tempat lain.” sindir Siwon.
“Aku
ada sedikit masalah dengan petugas bandara. Tapi tidak apa-apa.”
“Untukmu.” Siwon menyerahkan gelang berbandul bulan dan bintang
yang dulu pernah diberikannya pada Yoona tapi ditolak.
“Jadi
ini gelangnya? Sebenarnya aku tidak suka barang bekas. Tapi karena ini bagus
jadi aku terima saja.”
gadis itu langsung memakainya ditangan kiri dan memandangnya sejenak. “Tidak buruk juga.”
Siwon tersenyum tipis. “Kau tidak berubah Hwang Miyoung.”
“Tiffany
Hwang.” ralat Tiffany. “Di Paris tidak ada yang kenal nama itu.” jelasnya.
“Ne,
model papan atas Tiffany Hwang. Tapi ini Korea, jangan lupa itu.”
“Terserah
kau saja. Jadi bagaimana apa sakit hatimu sudah sembuh?”
“Belum
sepenuhnya.”
“Tak
apa, sekarang obatnya sudah datang.” Tiffany menunjuk dirinya bangga. “Ayo pulang, tolong bawakan koperku.” perintahnya sembarangan.
Sambil berkacak pinggang
Siwon menggeleng kecil. “Gadis
yang aneh.”
The end
Langganan:
Postingan (Atom)